Pengusaha Telur Asin WAJIB BACA nih!!

MENINGKATKAN KUALITAS TELUR ASIN DENGAN BAHAN RUMAHAN




1.    JAHE MERAH







Menurut Kikuzaki dan Nakatani (1993) jahe merupakan salah satu tanaman rempah yang dapat digunakan sebagai pengawet. Jahe memiliki zat antioksidan alamai karena pada jahe terdapat senyawa zingerone, shogaol, gingerol, gingerdiol, diarylheptanoid, dan kurkumin. Komponen bioaktif jahe juga bersifat anti mikroba. Adanya sifat antioksidan alami maupun bersifat anti mikroba pada jahe maka dapat digunakan sebagai pengawet alami. Aroma jahe dapat diserap kedalam telur karena pada jahe terdapat minyak atsiri yang menimbulkan aroma khas jahe, serta adanya gingerol dan shogaol untuk rasa pedas. Sukarne (2010) melaporkan bahwa selain mempunyai citarasa yang khas, telur asin herbal juga mempunyai kandungan kolesterol yang lebih rendah. Sehingga kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kandungan kolesterol yang tinggi pada telur asin bisa diminimalisasi.

Penggunaan dan pemanfaatan jahe pada berbagai produk olahan cukup banyak dilakukan masyarakat, diantaranya pada pengolahan telur asin. Diharapkan dengan penambahan rimpang jahe pada proses pembuatan telur asin dapat memperbaiki karakteristiknya. Walau pada penelitian sebelumnya masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Diantaranya Malau (2013) yang menggunakan level jahe sampai 24 %, yang menunjukkan peningkatkan pada penilaian organoleptik.

Telur itik dipilih dari telur yang segar (umur telur kurang dari 5 hari) dengan bentuk normal (oval) dan warna relatif sama (hijau kebiruan).Selanjutnya telur dicuci hingga bersih sambil diamati kondisi kerabang (tidak retak).Telur yang telah bersih dan kerabang utuh selanjutnya dilakukan candling, yaitu pengamatan bagian dalam telur/internal untuk melihat kondisi dan keadaan internal.

Sebanyak 12 butir telur tiap unit perlakuan direndam sesuai dengan perlakuan konsentrasi jahe selama 10 hari.Setelah perendaman dilakukan penyamakan dengan menggunakan bubuk the sebagaibahan penyamakyang dilarutkan dalam air pada konsentrasi 3% berdasarkan penelitian Zulaekah dan Endang (2005). Penyamakan dilakukan selama 6 hari, selanjutnya telur dicuci dan diambil sebagian sebagai sampel dari tiap unit perlakuan untuk dilakukan analisis kualitas fisik telur seperti berat jenis, pH, susut bobot, dan haugh unit.



Berdasarkan hasil yang diperoleh haugh unit tertinggi yaitu 58,02 (grade B) dengan penambahan jahe 30% (P30) dan nilai terendah yaitu 54,94 (grade B) tanpa penambahan jahe (P0). Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa perlakuan penambahan jahe memberikan efek positif terhadap nilai haugh unit dengan tanpa penambahan jahe. Hal ini diduga karena komponen pengawet pada jahe dapat menekan kerusakan pada albumen dimana nilai haugh unit dipengaruhi oleh berat telur dan tinggi albumen. Sesuai dengan pendapat Muchtadi dan Sugiono (1992) penurunan nilai HU selama penyimpanan terjadi karena penguapan air dalam telur dan kantung udara bertambah besar. Nilai HU merupakan nilai yang mencerminkan keadaan albumen telur yang berguna menentukan kualitas telur. Nilai HU ditentukan berdasarkan keadaan putih telur yaitu korelasi antara bobot telur dan tinggi putih telur. Nilai rata-rata haugh unit sebelum perlakuan yaitu 70,44 tergolong grade A, setelah nilai rata-rata HU terjadi penurunan yaitu 63,40 tergolong grade B semakin lama penyimpanan maka nilai HU semakin rendah, nilai rata-rata HU setelah penyamakan yaitu 56,81 dan masih tergolong grade B. menurut standar United State Department of Agriculture (USDA, 2000) adalah sebagai berikut :Nilai haugh unit kurang dari 31 % digolongkan kualitas C, nilai haugh unit antara 31–60 % digolongkan kualitas B, nilai haugh unit antara 60 –72 % digolongkan kualitas A, Nilai haugh unit lebih dari 72 % digolongkan kualitas AA. Penurunan nilai haugh unit berhubungan erat dengan kekentalan putih telur, dimana semakin encer putih telur maka nilai haugh unit semakin rendah. Sesuai dengan pendapat Syamsir, (1993) telur yang masih segar mempunyai albumen kental. Dengan meningkatnya umur telur, tinggi lapisan kental itu akan menurun karena terjadinya perubahan struktur gelnya. Berkurangnya tinggi albumen akibat migrasi air dari albumen ke yolk mengakibatkan interaksi antara lysozyme dengan ovomucin yang menyababkan berkurangnya daya larut ovomucin dan merusak kekentalan albumen (Abbas, 1989)



Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jahe sampai level 30% dengan penyamakan 3% tidak memberikan pengaruh nyata terhadap susut bobot telur, haugh unit, nilai pH kuning telur, berat jenis telur tetapi berpengaruh nyata terhadap nilai pH putih telur



2.    BAWANG PUTIH




Telur asin yang ada saat ini umumnya mempunyai citarasa original, yaitu hanya dengan citarasa asin. Penggunaan bumbu (herba) dalam pembuatan telur asin masih relatif terbatas. Walau diketahui bumbu (herba) mempunyai beberapa senyawa aktif yang dapat berperan sebagai pengawet dan pemberi citarasa. Bawang putih (Allium sativum) mempunyai salah satu herba yang dapat digunakan sebagai alternatif pada pembuatan telur asin. Adanya senyawa aktif pada bawang putih diharapkan mampu mempertahankan dan mengurangi kecepatan penurunan kualitas telur asin. Bawang putih memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan mikroba, senyawa Allisin yang terkandung dalam bawang putih mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif dan jamur patogen, selalin senyawa seperti eugenol, timoleugenoldan timol karvakro yang juga mampu menghambat pertumbuhan mikroba. (Darmadji dkk, 1994)Komponen bawang putih dapat meresap kedalam telur melalui seluruh bagian kerabang telur yang memiliki banyak pori dengan bentuk yang tidak beraturan. Diduga dengan penambahan bawang putih dalam pembuatan telur asin dapat mengurangi kecepatan penurunan kualitas dari telur asin.



Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah telur itik segar umur (1-5 hari) yang berasal dari Kabupaten Kerinci sebanyak 120 butir. Bahan yang digunakan dalam pembuatan telur asin antara lain garam dapur halus, bawang putih dan air. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain ember plastik, egg tray, candler (alat teropong telur), pH meter, busa sterofom, gelas ukur, timbangan, blender, kompor gas, panci, tisue.



Telur di pilih yang bermutu baik(tidak retak atau busuk) dan ukuran sedang Selanjutnya telur di bersihkan atau dicuci dengan menggunakan sabut kasar Telur selanjutnya dicandling untuk melihat keutuhan telur dan melihat kondisi internal telur Selanjutnya telur di timbang dan diukur volumenya



Buat larutan air dan garam dengan perbandingan 3 : 1 dan aduk hingga garam terlarut

  • Sediakan bawang putih sesuai yang dibutuhkan, kemudian kupas kulit bawang putih terlebih dahulu, kemudian dipotong kecil

  • selanjutnya blender bawang putih tersebut, dan setelah diblender barulah kita dapatkan    bawang putih yang telah dihaluskan.

  • Kemudian larutan garam ditambah dengan bawang putih sesuai perlakuan (0%,25%,30%, 35%)

  • Selanjutnya telur direndam kedalam ember sesuai perlakuan dan ulangan selama 10 hari

  • Setelah 10 hari telur dicuci dan ditiriskan

  • Dilakukan pengukuran Bobot telur, pH, dan Berat jenis (BJ)

  • Selanjutnya setelah telur dikukus dan masa kemudian didinginkan lalu ditimbang

  • Dicuci bersih dengan air mengalir

  • Dicandling ditimbang untuk mengetahui bobot awal telur Pembuatan larutan pengasinan dengan ratio Air:Garam = 3 : 1 Pemberian bawang putih sesuai perlakuan (0%,25%,30%,35%)Telur diberi kode untuk masing-masing perlakuan

  • Direndam dalam larutan bawang putih selama 10 hari Setelah 10 hari dibongkar, dicuci, pengukuran pH, bobot telur, dan berat jenis (BJ).agan alir pembuatan telur asin bawang putih



Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, pada pemberian bawang putih sampai level 35% belum bisa mempertahankan kualitas fisik telur asin.
  

Referensi : 
  1. PENGARUH PENGGUNAAN JAHE MERAH PADA PEMBUATAN TELUR ASIN CARA BASAH TERHADAP KUALITAS FISIK TELUR ASIN SAMAK 
  2. PENGAEUH PEMBERIAN BAWANG PUTIH (Allium Sativum) PADA PEMBUATAN TELUR ASIN CARA BASAH TERHADAP KUALITAS TELUR ASIN 


Komentar